Kandidat pro-demokrasi didakwa oleh komisi pemilu Thailand

24 April 2019

Komisi Eropa menuduh seorang pemimpin pro-demokrasi memegang saham media saat mencalonkan diri.

Kemarin, Komisi Pemilihan Umum (EC) dengan suara bulat memutuskan untuk mengajukan pengaduan terhadap Thanathorn Juangroongruangkit, pemimpin Partai Maju Masa Depan, atas dugaan pelanggaran aturan kepemilikan saham media.

Mengutip penyelidikan oleh dua panel Komisi Eropa, Wakil Sekretaris Jenderal Sawang Boonmee mengatakan pada konferensi pers bahwa Thanathorn diduga melanggar hukum dengan memiliki atau memiliki 675.000 saham di V-Luck Media Company sambil bertindak sebagai ‘mendaftarkan kandidat untuk pemilihan umum.

“Nomor sertifikat saham Thanathorn adalah dari 1350001 hingga 2025000,” kata Sawang, mengacu pada temuan dua panel yang dibentuk Komisi Eropa untuk menyelidiki masalah tersebut.

Thanathorn dituduh melanggar pasal 98 (3) Konstitusi dan pasal 42 (3) UU Pemilu, yang melarang pemegang saham di sebuah perusahaan media untuk ikut serta dalam pemilihan anggota parlemen, kata Komisi Eropa. Tindakan tersebut dapat dihukum dengan diskualifikasi. Kasus ini diajukan pada tanggal 25 Maret oleh Srisuwan Janya, sekretaris jenderal Asosiasi Perlindungan Konstitusi Thailand. Sumber Komisi Eropa mengatakan lembaga tersebut harus menangguhkan hak Thanathorn untuk mengikuti pemilu selama satu tahun lagi atau “memberinya jeruk”. ” kartu, karena itu hanya tagihan awal. Thanathorn memiliki waktu tujuh hari untuk memberikan bukti atau menyerahkan dokumen pembelaannya kepada Komisi Eropa, kata Sawang, seraya menambahkan bahwa pengacaranya juga akan diizinkan untuk menyaksikan sidang tersebut.

Setelah kesaksian tersebut, Komisi Eropa akan menyelesaikan kasus ini sesegera mungkin untuk menyelesaikannya sebelum tanggal 9 Mei ketika ia akan mengumumkan hasil pemilu.

Namun, Sawang mengatakan saat ini dia belum bisa mengatakan bagian mana dari undang-undang yang dilanggar Thanathorn.

Thanathorn, yang partainya diperkirakan memenangkan sekitar 80 kursi anggota parlemen pada pemilu bulan lalu, sedang dalam perjalanan kembali dari turnya ke Eropa. Dia memposting di halaman Facebook-nya kemarin bahwa dia telah diberitahu untuk segera kembali ke Thailand untuk menghadapi insiden “tidak terduga”.

Sekretaris Jenderal Future Forward Piyabutr Saengkanokkul kemarin mempertanyakan keputusan Komisi Eropa, dengan mengatakan bahwa lembaga pemungutan suara harus menunggu sampai Thanathorn disahkan sebagai anggota parlemen sebelum mempertanyakan kualifikasinya.

Kabar Thanathorn yang diduga masih memiliki saham tersebut saat menjadi calon anggota parlemen pertama kali diberitakan oleh kantor berita Isra sebelum pemilu digelar.

Kantor berita tersebut melaporkan bahwa Thanathorn dan istrinya Raweepan memiliki total 900.000 saham, senilai sekitar Bt9 juta, di V-Luck Media Company. Namun seluruh saham mereka di perusahaan media tersebut kabarnya telah dialihkan ke ibu Thanathorn pada 21 Maret, atau tiga hari sebelum pemilu. Pengacara Thanathorn sebelumnya mengatakan kliennya sepenuhnya mematuhi hukum saat ia mengalihkan seluruh sahamnya di perusahaan media tersebut pada 8 Januari, atau satu bulan sebelum pendaftaran pemilu.

Belakangan diketahui bahwa Thanathorn sebenarnya sedang berkampanye di Buri Ram pada hari transfer tersebut dilaporkan. Tim kuasa hukumnya kemudian mengatakan Thanathorn bergegas ke Bangkok pada sore harinya untuk menandatangani dokumen transfer.

Namun Srisuwan membantah klaim tersebut. Kemarin, aktivis tersebut menyerahkan dokumen tambahan kepada Komisi Eropa terkait kasus tersebut. Srisuwan mengatakan penjelasan yang diberikan Piyabutr tidak masuk akal dan ia tampak memberikan dokumen palsu untuk membela diri dari tuduhan tersebut. Aktivis tersebut mengatakan, Thanathorn tidak mungkin bisa kembali dari Buri Ram ke Bangkok dalam waktu sesingkat yang diklaim Piyabutr.

Sementara itu, Raksagecha Chaechai, sekretaris jenderal Kantor Ombudsman, mengatakan Komisi Eropa memiliki waktu hingga besok untuk menyampaikan penjelasan kepada kantor tersebut mengenai petisi yang meminta pembatalan pemilu 24 Maret.

Pekan lalu, kantor tersebut memutuskan untuk menerima petisi yang diajukan oleh mantan calon anggota parlemen dari Partai Raksa Chart Thai yang sekarang sudah tidak ada lagi, Reungkrai Leekijwatana, yang meminta kantor tersebut untuk menyampaikan pendapatnya ke Pengadilan Tata Usaha Negara atau berkas Mahkamah Konstitusi mengenai apakah pemilu bulan lalu harus dilaksanakan. dibatalkan. .

Pemohon menyebutkan adanya kebingungan dan permasalahan yang dipertanyakan yang terjadi setelah pemilu dimana Komisi Eropa tidak dapat menemukan solusinya.

Raksagecha mengatakan jika Komisi Eropa menyampaikan penjelasan tepat waktu, maka Komisi Eropa akan dapat mengambil keputusan akhir sebelum batas waktu 9 Mei bagi Komisi Eropa untuk mengumumkan hasil pemilu.

taruhan bola

By gacor88